Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan Republik Indonesia
 
 
 
 
 
 
Prasyarat Profil BKF Kontak
Home Tarif APBN Ekonomi Makro Risiko Fiskal Kerjasama Int.
    Info Fiskal
 


Rupiah dan Saham Kian Terpuruk
28 Oktober 2008, 9:38:30 AM

JAKARTA(SINDO) – Pasar finansial belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih. Rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bahkan kian terpuruk.

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot antarbank Jakarta menyentuh level Rp10.750 per dolar AS,melemah tajam 745 poin dibanding perdagangan akhir pekan lalu,Rp10.005 per dolar AS.Dari pasar saham, IHSG anjlok 78,455 poin (6,3%) dan ditutup di level 1.166,409, angka terendah sejak Desember 2005.

Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan terus mengamati perkembangan nilai tukar rupiah,termasuk konsekuensinya terhadap perekonomian nasional. ”Komentar saya sama, apakah seluruh kejadian perkembangan seperti kurs, harga minyak, segala macam, itu akan kita observasi terus bagaimana pengaruhnya ke APBN dan lainlain,” ujar Sri Mulyani seusai rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Rapat dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dihadiri oleh Gubernur BI Boediono,Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil,Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Meteri Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah meminta persediaan dolar milik BUMN segera ditarik ke dalam negeri.Langkah itu diambil untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir.

”Soal pelemahan rupiah agar dolarnya itu dibuat clearing house,semua BUMN yang punya dolar agar memasukkan ke dalam negeri,kita akan monitor soal itu,”kata Sofyan. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan meminimalkan permintaan valuta asing oleh BUMN.Khusus untuk PT Pertamina, bahkan diinstruksikan untuk membayar dalam rupiah berbagai jenis pos pembayaran yang memungkinkan.

”Untuk Pertamina, apa saja yang bisa mereka bayar dengan rupiah,maka harus dibayar dengan rupiah, supaya mereka tidak banyak memerlukan dolar,”lanjut Sofyan. Selain itu, masih menurut Sofyan,penggunaan biodiesel juga akan dipacu karena pembelian biodiesel menggunakan rupiah. ”Kita akan mempercepat penggunaan biodiesel karena biodiesel dibayar dengan rupiah, selain membantu petani sawit,”katanya.

Di tempat terpisah,Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan, depresiasi nilai tukar rupiah yang terus-menerus tidak bisa ditahan hanya oleh otoritas moneter Indonesia. Sentimen negatif terhadap rupiah bahkan tidak cukup diatasi dengan komitmen bersama negara-negara di Asia.

”Semua negara mengalami koreksi nilai tukar mata uang,”katanya. Menurut Anggito, koreksi nilai tukar adalah sentimen global,sehingga mustahil pelemahan nilai tukar rupiah bisa diselesaikan secara individu oleh otoritas moneter Indonesia. Hal itu sudah dipahami oleh pemimpin Asia dan Eropa dalam Pertemuan Asia-Eropa (Asian Europe Meeting/ ASEM) Ke-7 di Beijing,China,pekan lalu.

”Maka tema ASEM dan ASEAN plus 3 kemarin, juga dalam pertemuan regional maupun internasional, memang harus ada solusi global, bukan regional,”ujar Anggito. Pelemahan nilai tukar rupiah sejauh ini belum berpengaruh signifikan seluruh fundamental ekonomi Indonesia. ”Fundamen ekonomi kita masih kuat, pertumbuhan ekonomi masih di atas 6%, cadangan devisa cukup kuat, dan perbankan kita masih sehat. Secara fundamental, tidak ada yang perlu dirisaukan,” lanjut Anggito.

Depresiasi hampir semua mata uang dunia terhadap dolar AS menunjukkan adanya pergeseran fundamen ekonomi dunia menuju keseimbangan baru. Dalam proses ini pemerintah akan berupaya agar transisi tidak menimbulkan dampak yang berat bagi pelaku usaha, khususnya sektor riil.”Keseimbangan baru itu tidak hanya terjadi di Indonesia, fundamen ekonomi semua negara mengalami koreksi,”ujar Anggito.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto meminta agar pemerintah menerapkan kurs tengah untuk mengurangi biaya produksi pelaku usaha. Fluktuasi kurs rupiah yang tidak stabil membuat biaya produksi semakin bertambah karena ada dua nilai tukar yang berbeda, yaitu kurs jual dan kurs beli.”Bisa jadi pemerintah atau Bank Indonesia yang menyubsidi selisih antara dua kurs itu,”katanya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi lantaran kondisi ekonomi yang terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Hal itu memengaruhi psikologi para pelaku ekonomi.

Menurut Erani, secara umum terdapat tiga faktor yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,yakni tingginya jumlah dana keluar, tidak adanya langkah-langkah BI yang cukup konkret mengatasi pelemahan rupiah, dan belum terdengarnya kebijakan eksplisit dari BI yang akan segera direalisasikan dalam waktu dekat ini. ”Ketiga hal inilah yang menjadi potensi psikologis berkurangnya kepercayaan pasar atau para pelaku ekonomi terhadap rupiah,”ujarnya.

”Karena itu BI harus segera melakukan operasi pasar dalam jumlah yang sesuai dengan kapasitas BI,”imbuhnya. Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Tony A Prasetyantono meminta pemerintah dan BI bekerja keras mengatasi tren pelemahan nilai tukar rupiah. Ada dua langkah yang bisa dioptimalkan untuk menjaga stabilitas rupiah, yakni mendorong perusahaan untuk melakukan penjadwalan ulang pembayaran transaksi dagang dan membatasi impor barang konsumtif.

Tidak Rasional

Di sisi lain, IHSG kemarin ditutup melemah 78,455 poin (6,30%) di level 1.166,409,sedangkan indeks LQ45 terkoreksi 16,709 poin (7,12%) ke posisi 217,824. Analis pasar modal Mirza Adityaswara melihat kejatuhan indeks lantaran melemahnya bursa global dan nilai tukar rupiah.”Kedua faktor itu menyebabkan pasar tidak rasional,”ujarnya.

Direktur Utama BEI Erry Firmansyah mengatakan,kejatuhan IHSG bukan disebabkan faktor internal, melainkan sentimen negatif dari bursa regional. Dia menilai setiap bursa di masingmasing negara memiliki keterkaitan.” Saat ini semua pasar lagi turun, kita kan tidak bisa hidup sendiri, jadi ini keterkaitan,”katanya. Penurunan terjadi,meskipun transaksi perdagangan sepi.Frekuensi transaksi hanya 18.891 kali dengan volume 981,803 juta unit saham senilai Rp981,803 miliar.

Hanya 14 saham yang naik, sedangkan 162 saham turun dan 19 saham stagnan. Kemarin, sebagian besar indeks regional memang tertekan cukup dalam.Kondisi ini dipicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dunia dan paniknya pelaku pasar menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi AS. DiJepang,indeksNikkeiditutup melemah 6,4% ke level 7.162,90,terendah sejak 1982. Begitu pun Hang Seng,Hong Kong, menurun tajam lebih dari 12% ke level 11.099 poin.

Di Filipina dan Thailand, perdagangan di bursa saham bahkan sempat dihentikan (suspensi) akibat indeks jatuh lebih dari 10%. Philippine Stock Exchange dihentikan saat indeks jatuh 194,33 poin ke level 1.759,16, tiga puluh menit sebelum sesi II perdagangan. Di Thailand, Stock Exchange of Thailand (SET) dihentikan saat indeks merosot 10,5% atau 43,9 poin ke level 389,58.

Kejatuhan bursa saham di Asia sedikit terbantu oleh menguatnya indeks Kospi, Korea Selatan, yang dengan susah payah ditutup menguat 0,8% ke level 946,45, setelah pada awal perdagangan melorot 2,8%.Kospi menguat setelah kemarin otoritas bank sentral Korea Selatan memotong suku bunga 0,75% dari 5 menjadi 4,25%.

Di China, indeks Shanghai Composit Indeks juga anjlok 6,3%. Penurunan itu membuat akumulasi kejatuhan indeks Shanghai selama setahun terakhir mencapai 72%. (muhammad ma’ruf/ whisnu bagus/zaenal muttaqien/meutia rahmi/tomi sujatmiko/rarasati syarief/AP/AFP/yanto)

 
Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan Republik Indonesia
 [Home]   [Glosarium]   [E-Kliping]   [Pustaka Online]   [Arsip]   [Site Map
Copyright © fiskal.depkeu.go.id, 2007