Harga Minyak, Pertumbuhan, dan APBN

Data dan Publikasi » APBN

Rabu, 04 Juli 2007

BPS kemarin telah merilis pertumbuhan ekonomi kuartal III, yakni 6,5 persen YoY. Hal ini merupakan berita gembira, mengingat selama ini kita khawatir bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai level 95 dollar AS per barrel akan membawa dampak negatif terhadap perekonomian kita.

Di tengah kekhawatiran yang berlebihan, ternyata pertumbuhan ekonomi kita tetap tinggi, yang mana pertumbuhan ini disumbang oleh konsumsi rumah tangga (RT) 5,3 persen, konsumsi pemerintah 6,5 persen, investasi 8,8 persen, dan ekspor 7,8 persen.

Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan Departemen Keuangan, yakni 6,2 persen-6,4 persen, dikarenakan perbedaan pada konsumsi dan investasi di mana proyeksi Departemen Keuangan sedikit lebih rendah.

Memang terjadi perubahan komposisi pertumbuhan dari yang telah diproyeksikan pada tahun 2007, di mana konsumsi RT menjadi lebih tinggi dan investasi lebih rendah dari yang diperkirakan semula. Namun, walaupun komposisi berubah, outlook untuk pertumbuhan ekonomi relatif masih sama, yakni 6,3 persen. Ini terjadi karena dalam perkembangannya ternyata yang bangkit lebih cepat adalah konsumsi RT. Perkembangan yang cepat dari sisi konsumsi RT ini mengindikasikan inflasi sudah bisa dikontrol dan daya beli masyarakat relatif pulih dari tahun lalu. Ini merupakan sinyal positif, mengingat konsumsi RT menyumbang 70 persen dari pertumbuhan kita.

Untuk investasi, realisasinya diperkirakan masih lebih rendah dibandingkan dengan target APBN, yakni 12,3 persen, walaupun data BKPM menunjukkan bahwa investasi naik cukup tinggi. Ini terjadi karena sumber investasi bukan hanya berasal dari PMA dan PMDN, melainkan juga dari sumber lainnya, seperti investasi pemerintah yang berupa belanja modal, investasi BUMN, dan investasi perbankan. Memang harus diakui bahwa investasi merupakan tantangan tersendiri walaupun, jika kita melihat data perbankan dan BKPM, picking up dari investasi sudah terjadi.

Jika kita melihat indikator ekonomi yang lain, kenaikan harga minyak tentunya juga akan memengaruhi asumsi yang digunakan dalam penghitungan APBN. Untuk inflasi, perkiraan realisasi berada dalam kisaran 6,4 persen-6,5 persen, rata-rata nilai tukar bergeser dari Rp 9.050 menjadi Rp 9.125, SBI tiga bulan relatif tidak berubah, harga minyak berada pada level 70 dollar AS per barrel, lifting minyak 0,910 juta barrel per hari, dan cadangan devisa meningkat menjadi 55,6 miliar dollar AS (selengkapnya lihat tabel indikator ekonomi makro).

Kenaikan harga minyak tentu berpengaruh pada APBN 2007. Dampak langsung tersebut adalah berubahnya pos penerimaan APBN 2007 (baik dari PPh Migas dan PNBP Migas) serta pos subsidi BBM dan listrik. Kenaikan harga minyak mentah ini tentunya secara otomatis akan meningkatkan subsidi BBM dan listrik. Subsidi listrik ikut meningkat dikarenakan pembangkit listrik kita masih menggunakan BBM sebagai bahan bakar.

Jika kita tidak memperhitungkan aspek lain, seperti lifting serta parameter lainnya, untuk menghitung subsidi yang digunakan dalam APBN dan hanya melihat dari variabel kenaikan harga minyak mentah saja, kondisi APBN akan lebih diuntungkan. Ini terjadi karena kenaikan harga minyak mentah dunia ternyata telah meningkatkan neraca perdagangan (trade balance) migas kita dan juga meningkatkan posisi cadangan devisa. Dan tentunya, seiring dengan meningkatnya surplus neraca perdagangan migas ini, penerimaan migas APBN, baik dalam bentuk PPh Migas dan PNBP Migas, akan meningkat. Ternyata, berbagai variabel yang terkait dengan minyak seluruhnya ikut bergerak. Lifting minyak, misalnya, diperkirakan hanya mencapai 0,910 juta barrel per hari (bph), peningkatan konsumsi BBM oleh masyarakat dan konsumsi untuk PLN. Hasil konversi minyak tanah ke LPG ternyata tidak sesuai harapan sehingga konsumsi minyak tanah masih tinggi. Kondisi inilah yang menjadi sebab mengapa besaran subsidi BBM menjadi bertambah. Karena itu, tidak mengherankan jika kenaikan harga minyak mentah ini menimbulkan kerugian bagi APBN 2007 karena tambahan penerimaan migas lebih rendah dibanding tambahan belanja migas.

Meningkatnya beban subsidi BBM ini memang membebani APBN 2007. Namun, meningkatnya subsidi BBM ini juga memiliki arti lain karena menunjukkan gejala positif perekonomian Indonesia.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, kenaikan subsidi BBM (termasuk listrik) tidak semata-mata karena kenaikan harga minyak yang kita impor untuk kebutuhan BBM di dalam negeri, tetapi juga disebabkan meningkatnya aktivitas perekonomian.

Sebagai bukti, selama tahun 2007 penjualan kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2006 (lihat grafik). Mungkin faktor ini pula yang turut menyebabkan kemacetan di Ibu Kota bertambah, sementara di saat bersamaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sedang melakukan percepatan pembangunan busway.

Selain itu, konsumsi penggunaan listrik (baik industri maupun rumah tangga) dan penjualan semen juga meningkat. Artinya, sinyalemen meningkatnya subsidi BBM ini menunjukkan bahwa roda perekonomian selama tahun 2007 telah berjalan secara baik.

Subsidi BBM

Meningkatnya subsidi BBM ini tidak serta merta membuat posisi APBN 2007 tidak aman. Sejalan dengan meningkatnya harganya minyak mentah, pemerintah juga berpeluang mendapatkan windfall profit dari meningkatnya laba BUMN pertambangan (seperti Pertamina, Antam, Bukit Asam, dan Timah) sehingga dividen pemerintah akan meningkat. Selain komoditas pertambangan, kenaikan harga CPO juga akan memberikan tambahan penerimaan APBN sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengenakan Pungutan Ekspor (PE) untuk CPO sebesar 10 persen pada akhir tahun ini.

Dari sisi belanja negara, pemerintah juga melakukan sejumlah langkah efisiensi belanja di tingkat pusat. Diperkirakan, selama tahun 2007 belanja pusat akan dapat dihemat sebesar Rp 19,6 triliun. Dengan kombinasi antara sisi penerimaan dan sisi belanja, posisi APBN 2007 akan tetap dalam posisi aman. Dalam artian, target defisit sebesar 1,5 persen dari PDB dapat dipertahankan.

Dengan demikian, komposisi pembiayaan defisit akan tetap sehingga kenaikan harga minyak mentah ini tidak harus ditutupi dari tambahan utang pemerintah ataupun tambahan penjualan aset negara lainnya.

Dampak kenaikan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dampak dari kenaikan harga minyak mentah masih relatif aman bagi APBN 2007. Tentunya, kita berharap kenaikan harga minyak ini tidak berlanjut hingga tahun 2008. Meski demikian, pemerintah telah mengambil keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM, apa pun yang terjadi dengan harga minyak mentah, setidaknya hingga tahun 2008. Ini merupakan tantangan besar sekaligus untuk menjawab kebutuhan masyarakat kita.

Untuk mengantisipasi hal ini, investasi harus lebih didorong agar tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tahun 2008, mengingat kita tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, melainkan harus pula ditopang investasi.

Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari instansi pusat, daerah, perbankan, dan lembaga keuangan lainnya sangat penting untuk mendorong sektor investasi ini. Kita semua tidak perlu terlalu khawatir terhadap perekonomian ke depan karena pada dasarnya APBN dan NPI akan dapat diamankan. Yang lebih penting lagi adalah langkah-langkah antisipatif kita untuk mengamankannya, termasuk pengambilan pilihan kebijakan yang sulit sekalipun.

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di koran Kompas Edisi 17 November 2007

File terkait :











Share |

Komp. Kementerian Keuangan
Gd. R.M. Notohamiprodjo
Jl. Dr Wahidin Raya No.1
10710
Jakarta Pusat

021-34833486
Bagian Data dan Informasi

Data dan Informasi
email